Nunukan, SIMP4TIK – Kabupaten Nunukan mencatat deflasi sebesar 0,03 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Mei 2026, meski demikian, secara tahunan (year-on-year/yoy), daerah perbatasan tersebut masih mengalami inflasi sebesar 2,03 persen, yang sekaligus menjadi tingkat inflasi terendah di Provinsi Kalimantan Utara.
Data tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan, Dr. Iskandar Ahmaddien, SST., S.E., S.H., M.M., berdasarkan hasil pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2026.
Menurut Iskandar, deflasi bulanan menunjukkan adanya penurunan rata-rata harga barang dan jasa dibandingkan bulan sebelumnya, namun secara umum kondisi inflasi di Kabupaten Nunukan masih berada pada level yang terkendali.
"Pada Mei 2026, Kabupaten Nunukan mengalami deflasi sebesar 0,03 persen dibandingkan April 2026, meskipun terjadi penurunan harga secara bulanan, secara tahunan Kabupaten Nunukan masih mencatat inflasi sebesar 2,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 111,1," ujar Iskandar.
Ia menjelaskan, inflasi tahunan di Nunukan masih didorong oleh sejumlah kelompok pengeluaran, terutama kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi.
"Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi tahunan dengan andil sebesar 0,62 persen, selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran memberikan andil 0,44 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,43 persen," jelasnya.
Selain kelompok tersebut, inflasi juga dipengaruhi oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang memberikan andil sebesar 0,35 persen. Sementara kelompok transportasi menyumbang 0,11 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,05 persen.
Berdasarkan data BPS, laju inflasi tahunan Kabupaten Nunukan sepanjang periode Mei 2025 hingga Mei 2026 menunjukkan tren yang relatif stabil, inflasi tertinggi terjadi pada Februari 2026 yang mencapai 4,22 persen, sebelum kembali melandai pada bulan-bulan berikutnya.
Iskandar menilai kondisi tersebut menunjukkan kemampuan daerah dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan masyarakat.
"Setelah sempat mengalami peningkatan pada awal tahun 2026, laju inflasi Kabupaten Nunukan kembali menurun dan berada pada kisaran yang terkendali, hal ini menunjukkan stabilitas harga barang dan jasa di daerah masih terjaga dengan baik," katanya.
Pada Mei 2026, tingkat inflasi tahunan Kabupaten Nunukan tercatat paling rendah dibandingkan daerah lain yang menjadi cakupan penghitungan inflasi di Provinsi Kalimantan Utara.
Data BPS menunjukkan inflasi tahunan di Tanjung Selor mencapai 3,97 persen, sedangkan Kota Tarakan sebesar 3,08 persen, adapun Kabupaten Nunukan berada pada angka 2,03 persen.
Menurut Iskandar, capaian tersebut menjadi indikator positif bagi perekonomian daerah karena menunjukkan keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
"Inflasi yang terkendali merupakan salah satu indikator penting dalam menjaga daya beli Masyarakat, dengan inflasi yang relatif rendah dan stabil, masyarakat memiliki kepastian yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari," pungkasnya.
Pemerintah daerah bersama berbagai pemangku kepentingan diharapkan terus memperkuat upaya pengendalian inflasi, khususnya pada komoditas pangan strategis yang selama ini menjadi penyumbang utama perubahan harga di Kabupaten Nunukan. (*)
Foto : BPS
Teks/Foto : BD Novelinna (Tim Publikasi DINAS KOMUNIKASI INFORMATIKA STATISTIK DAN PERSANDIAN )
Editor : BD Novelinna