Nunukan, SIMP4TIK – Suasana penuh semangat dan intelektualitas mewarnai pelaksanaan Grand Final Kompetisi Debat Pelajar Demokrasi ke-4 yang diselenggarakan oleh Bawaslu Kabupaten Nunukan bekerja sama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Nunukan pada Jumat (5/6/2026) pukul 14.00 WITA. 

Kegiatan bergengsi tersebut berlangsung di Lantai V Kantor Bupati Nunukan dan dihadiri berbagai unsur pemerintah daerah, penyelenggara pemilu, serta para pelajar dari sejumlah SMA/SMK/MA sederajat di Kabupaten Nunukan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Plt Sekretaris Daerah Kabupaten Nunukan, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan DPRD Kabupaten Nunukan, anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara, anggota DPRD Kabupaten Nunukan, Ketua Bawaslu Provinsi Kalimantan Utara, Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah Kabupaten Nunukan, guru pendamping peserta, BP3MI, Ketua Bawaslu Kabupaten Nunukan, anggota KPU Kabupaten Nunukan, serta tamu undangan lainnya.

Kompetisi debat yang telah memasuki tahun keempat ini mengusung tema “Konsolidasi Demokrasi, Tolak Buta Politik, Songsong Pemilu Nasional dan Daerah yang Luber dan Jurdil di Perbatasan”. Tema tersebut dinilai sangat relevan dalam membangun kesadaran politik generasi muda, khususnya di wilayah perbatasan yang memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia.

Dalam sambutannya, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Nunukan, Hasan Basri menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta yang berhasil menembus babak grand final. Ia mengaku sangat terkesan dengan kemampuan para pelajar dalam menyampaikan argumentasi, menganalisis isu-isu demokrasi, serta mempertahankan pendapat secara logis dan sistematis.

“Melihat penampilan para finalis hari ini, saya merasakan 3T, yaitu Takjub, Terpesona, dan Terkesima. Kemampuan mereka luar biasa. Tingkat kecerdasan dan daya analisis yang ditunjukkan menurut saya berada di atas rata-rata siswa pada umumnya. Ini menunjukkan bahwa mereka mendapatkan pendidikan dan pembinaan yang sangat hebat dari sekolah maupun para guru pendamping,” ujarnya di hadapan para peserta dan tamu undangan.

Menurutnya, tema yang diangkat dalam kompetisi tahun ini juga sangat tepat sebagai bentuk pendidikan politik bagi generasi muda. Ia menegaskan bahwa pelajar harus memiliki pemahaman politik yang baik agar tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan maupun praktik-praktik politik yang tidak sehat.

“Tema ‘Jangan Buta Politik’ sangat tepat. Karena hanya ada satu kebutaan yang boleh di dunia ini, yaitu buta cinta. Kalau buta politik jangan sampai terjadi. Kalau buta cinta masih boleh, karena cinta itu buta dan bisa mengalahkan segalanya,” ujar Hasan disambut tawa dan tepuk tangan para hadirin.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bakesbangpol juga menyampaikan komitmen pemerintah daerah melalui Bakesbangpol untuk terus mendukung keberlanjutan kompetisi debat demokrasi sebagai wadah pembelajaran politik bagi generasi muda.

“Insyaallah kegiatan seperti ini akan terus kita lanjutkan. Sepanjang masih ada kesempatan dan dukungan, program ini akan tetap kita dorong karena manfaatnya sangat besar bagi pembentukan karakter demokratis generasi muda Kabupaten Nunukan,” tegasnya.

Selain memberikan apresiasi, ia juga menyampaikan beberapa catatan konstruktif kepada para peserta debat. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis yang dimiliki para finalis sudah sangat baik, namun perlu diimbangi dengan teknik penyampaian yang lebih terukur.

“Saya hanya punya satu kritik. Jangan berdebat seperti orang berlari, karena ini bukan lomba lari. Pertahankan artikulasi, pertahankan intonasi, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh audiens maupun dewan juri,” pesannya.

Kegiatan Grand Final Kompetisi Debat Pelajar Demokrasi ke-4 ini menjadi bukti nyata sinergi antara Bawaslu dan Bakesbangpol dalam meningkatkan literasi politik serta memperkuat nilai-nilai demokrasi di kalangan pelajar. Sebagai mitra kerja strategis pemerintah daerah, Bawaslu dan KPU memiliki peran penting dalam memberikan edukasi politik yang berkelanjutan kepada masyarakat, khususnya generasi muda sebagai pemilih masa depan.

Melalui kompetisi ini, para pelajar tidak hanya dilatih untuk berargumentasi dan berpikir kritis, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya demokrasi, partisipasi politik yang cerdas, serta komitmen menjaga pelaksanaan pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Diharapkan kegiatan ini mampu melahirkan generasi muda Kabupaten Nunukan yang cerdas, kritis, berintegritas, dan siap menjadi agen demokrasi di wilayah perbatasan Indonesia.

Teks/Foto : Bambang Sulistyono, S.IP (Tim Publikasi BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK )

Editor : Asa Zumara, SS, M.IKom