Nunukan, SIMP4TIK - Legenda Gunung Yufai Semaring, cerita rakyat dari dataran Tinggi Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) ini, tidak terlepas dari cerita tentang sosok Yufai Semaring.

Yufai Semaring ini dikenal sebagai manusia raksasa yang gagah perkasa, dan pengembara dunia, karena ia mempunyai prinsip, dimana tengah - tengah dunia ini disitulah ia tinggal. Dari prinsip itulah maka ia mencari dimana sebenarnya tengah-tengah dunia ini.

Satu hari Yufai Semaring mengangkat sebuah batu besar dan melemparnya dari kutub utara, dan melakukan hal yang sama dari kutub barat, kutub selatan dan kutub timur. Yufai berpendapat dimana keempat batu yang dilemparkannya dari ke empat kutub itu berkumpul, berarti disitulah tengah tengah bumi ini.

Setelah keempat batu dilemparkan dari empat kutub itu, Yufai pun mulai mencari dimana keempat batu itu berkumpul.

Dalam perjalanannya mengembara dunia ini hendak mencari keempat batu itu ternyata keempat batu itu ia temukan ada di Krayan,  tepatnya di lokasi Mein Kili.

Tumpukan batu yang dilempar oleh Yufai Semaring pun kini dikenal oleh masyarakat setempat dinamakan Paye "Pipet" (antara Pa Kebuan dengan Trang Baru Kecamatan Krayan Timur) Pipet artinya dilempar.

Kembali ke cerita dimana tumpukan batu-batu itu berkumpul, tidak jauh dari lokasi tersebut ada sebuah gunung tinggi mempunyai lobang yang dalam (Goa). 

Oleh Yufai tempat itulah yang dipilih oleh Yufai semaring untuk ditinggali. Yang kini masyarakat sebut Gunung Yufai, khususnya bagi kebanyakan orang dari suku Lundayeh.

Dari cerita yang dihimpun, dari gunung ini Yufai bersahabat dengan semua orang Lundayeh, namun ia tidak bisa diajak untuk berbicara langsung.

Cara masyarakat berkomunikasi dengannya juga terbilang cukup unik, Yufai yang diketahui memiliki kemampuan mengukir yang sangat baik, bila masyarakat yang datang minta tolong  mereka akan datang ke mulut lobang goa yang menjadi istana oleh Yufai. Lalu masyarakat meletakan sarung parang dengan pesan "hai Ufai ukirlah sarung parang ini jelek jelek" maka hasil ukirannya menjadi lebih baik dan sebaliknya" hai upai ukirlah sarung parang ini baik baik" maka hasilnya menjadi lebih jelek.

Dan hanya itu saja cara untuk berkomunikasi dengan Yufai khususnya untuk orang awam. Sedangkan orang yang berilmu dapat berkomunikasi langsung secara tatap muka dengan Yufai Semaring.

Di suatu sore Yufai pun turun dari rumahnya hendak mandi di Riberuh Batang yang lokasinya dekat dengan Long Bawan, saat asyik mandi Yufai tiba-tiba melihat sebuah akar melingkar bentuknya seperti gelang yang hanyut dari hulu, yang oleh orang krayan menyebutnya beker bubuh.

Oleh Yufai benda ajaib itu diamatinya dengan penuh tanda tanya, lalui Yufai berpendapat bahwa beker bubu itu adalah pakel (gelang) seseorang raksasa lainnya dibagian hulu sungai Pa Lutut. Beker itu dicobanya di tangannya ternyata lebih besar dan dicobanya dikakinya namun juga lebih besar.

Yang akhirnya Yufai berpendapat ada manusia yang lebih besar dari dirinya dan tinggal, di bagian hulu sungai Pa'Lutut tersebut.

Yufai yang memiliki rasa cinta dan saling menghargai sesama manusia, tidak ingin terjadi perselisihan diantara kedua manusia raksasa tersebut, Yufai Semaring pun keluar dari Krayan dan mencari suatu tempat yang aman dan nyaman bagi kelangsungan hidupnya yaitu Brunei Darussalam.

Sebelum ke Brunei Darussalam Yufai Semaring, berpesan kepada masyarakat Lundayeh agar beranak pinak sebanyak semut di atas tunggul kayu mati (kinula dera lun tued kayu repu), untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di diharapkan bercocok tanam, dan Jika suatu saat ada masyarakat Lundayeh yang mendapat masalah yang lebih berat, maka Yufai Semaring akan datang untuk menyelamatkan Lundayeh. Sesudah pesan ini diucapkannya maka Yufai Semaring pun mengangkatkan kakinya meninggalkan Krayan.

Berbulan bulan Yufai Semaring berjalan menyusuri sungai dan turun naik gunung. Di akhir perjalanannya tampak oleh Yufai Semaring sebuah tempat yang banyak penduduknya serta luas dan terdapat di pinggir laut.

Setelah Yufai Semaring melihat tanda atau petunjuk yang ada di atas batu yang merupakan peta jalan baginya, yang disebut Bang Pedian (sebutan orang tua terhadap Brunei Darussalam tempo dulu) yang menjadi tempat tinggal barunya.

Menurut tokoh masyarakat sekaligus juga penulis, Yacob Melay, untuk mengenang seorang yang bernama Yufai Semaring yang selalu menghiasi lidah para Lundayeh dan Lunbawang itu maka lapangan terbang perintis yang ada di Long Bawan diberikan nama lapangan terbang Yufai Semaring.

Tidak hanya lapangan terbang atau bandara, di desa Tanjung Lapang Kecamatan Malinau Barat, nama Yufai Semaring juga disematkan pada sebuah lapangan sepak bola.

“Untuk memunculkan cerita tentang Yufai Semaring itu kepramukaan memang banyak versinya. Semua perbedaan itu tidak kita permasalahkan karena sangat tergantung dengan lingkungan dan kemampuan si penulis untuk merangkaikan kata kata. Pada prinsipnya kita juga bangga atas semua itu, karena itulah suatu wujud nyata bagi mereka untuk mencintai siapa itu Yufai Semaring. Untuk menentukan yang mana betul yang mana hampir betul dan yang mana tidak betul semuanya tergantung pada para pembaca untuk meramukannya kedalam lubuk hati masing-masing,” tutur Yacob Melay.

Sumber: Yacob Melay 
Foto : Samuel

Teks/Foto : BD Novelinna (Tim Publikasi DINAS KOMUNIKASI INFORMATIKA STATISTIK DAN PERSANDIAN )

Editor : Hermi Mastura, S,I.Kom