Nunukan, SIMP4TIK - Pagi ini, halaman depan RSUD Nunukan tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa orang berdiri sambil menunduk pada layar ponsel, sementara yang lain duduk dengan gelisah menunggu bantuan petugas. Bukan karena layanan terlambat, tetapi karena hari itu tim pelayanan RSUD turun langsung melakukan sosialisasi Mobile JKN, aplikasi yang sebenarnya sudah lama diterapkan, namun belum sepenuhnya dipahami oleh semua pasien.
Di sudut dekat loket pendaftaran, seorang bapak paruh baya tampak berusaha menggeser-geser layar ponselnya dengan ragu. Namanya Pak Amir, warga yang datang untuk mengantar istrinya berobat.
“Saya tidak terlalu paham soal aplikasi, Nak. Tapi kalau ini bisa cepat, saya mau coba,” ujarnya sambil tersenyum malu.
Petugas kemudian duduk di sebelahnya dan membantu mengarahkan langkah demi langkah mulai dari login hingga mengambil nomor antrean secara digital.
Tak jauh dari situ, seorang ibu muda dengan anak balitanya tampak lega setelah berhasil mendapatkan bukti pendaftaran digital dari Mobile JKN.
“Biasanya saya datang pagi-pagi sekali supaya tidak antre panjang. Ternyata lewat aplikasi bisa langsung daftar duluan,” katanya.
Di ruang tunggu, pemandangan serupa terlihat. Pasien dan keluarga pasien saling membantu membaca menu-menu yang muncul di layar ponsel mereka. Beberapa remaja bahkan dengan sigap membantu orang-orang tua yang kesulitan memahami teknologi. Hari itu, suasana rumah sakit bukan hanya tentang layanan medis, tetapi tentang pembelajaran bersama.
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Nunukan, dr. Hesty, berada di antara kerumunan, memastikan setiap pasien mendapatkan penjelasan yang memadai.
“Mobile JKN sudah kami terapkan sejak lama, tetapi tidak semua masyarakat punya kesempatan belajar. Karena itu hari ini kami turun langsung, bukan hanya untuk sosialisasi, tetapi untuk mendampingi mereka satu per satu,” ungkapnya.
Pendekatan ini mendapat dukungan penuh dari Plt. Direktur RSUD Nunukan, dr. Andi Bau Tune Mangkau, Sp.B, yang memandang digitalisasi sebagai bagian dari pelayanan manusiawi.
“Kita ingin memastikan bahwa transformasi digital tidak meninggalkan siapa pun. Teknologi harus mempermudah, bukan membingungkan. Dengan hadir langsung, kita memberi ruang agar pasien merasa didampingi, bukan dibiarkan," ujarnya.
Bagi sebagian orang, pendaftaran online mungkin hal biasa. Namun bagi warga perbatasan seperti sebagian pasien RSUD Nunukan, adaptasi ini merupakan langkah baru menuju pelayanan kesehatan yang lebih cepat dan efisien. Dan pada hari itu, upaya kecil dari para petugas menjelaskan, membantu, dan menenangkan telah membuat perbedaan besar.
Menjelang sore, antrean di depan loket tampak jauh lebih tertib. Banyak pasien yang sudah berhasil mendaftar tanpa perlu menunggu lama. Mereka pulang dengan rasa percaya diri baru, bahwa kini mereka mampu menggunakan teknologi yang mempermudah kehidupan mereka.
Transformasi digital RSUD Nunukan bukan hanya soal aplikasi. Ia adalah tentang manusia, pendampingan, dan keberanian untuk mencoba hal baru mulai dari satu sentuhan di layar ponsel.(*)
Teks/Foto : Hermang B. Mirwang (Tim Publikasi RSUD NUNUKAN )
Editor : Hermi Mastura, S,I.Kom