Nunukan, SIMP4TIK - Di saat banyak wilayah Indonesia harus menunggu momen langka untuk menyaksikan mekarnya bunga Rafflesia, kawasan Krayan di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara, justru menawarkan pemandangan berbeda.
Di Desa Pa’ Kidang, Kecamatan Krayan Barat Kabupaten Nunukan, Rafflesia Pricei tumbuh subur tak jauh dari permukiman, menjadikan desa pegunungan itu salah satu lokasi terbaik di Nusantara untuk menikmati mekarnya bunga raksasa tersebut.
Di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Sumatera, menyaksikan bunga Rafflesia mekar masih dianggap keberuntungan besar.
Peneliti, pegiat lingkungan, hingga wisatawan harus menembus hutan berjam-jam, bahkan memantau berminggu hingga berbulan-bulan untuk melihat mekarnya si bunga raksasa.
Namun pemandangan kontras hadir di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara.
Di wilayah ini, Rafflesia pricei justru lebih mudah ditemukan, bahkan tumbuh di lokasi yang berdekatan dengan permukiman masyarakat.
Populasi terbesar tercatat di sektor Krayan, terutama di Desa Pa’ Kidang, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan. Di desa wisata unggulan ini, kawasan Buduk Udan yang berada di ketinggian 1.400 mdpl menjadi titik favorit wisatawan.
Jalur pendakiannya sepanjang 5 kilometer memberi kejutan tersendiri, rute perjalanan turun diarahkan melewati habitat alami Rafflesia pricei, sehingga peluang wisatawan melihat bunga mekar dalam satu titik meningkat drastis.
Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, menegaskan bahwa meski sering ditemukan, sifat biologis Rafflesia tetap penuh misteri.
“Mekarnya Rafflesia pricei tidak dapat diprediksi seperti tumbuhan pada umumnya. Berdasarkan monitoring, bunga ini paling sering mekar pada Agustus. Namun perlu pemantauan berkala untuk mengetahui frekuensi pastinya,” ujarnya, Jumat (28/11/2025).
Balai TNKM mencatat kemunculan Rafflesia pricei saat ini tersebar di SPTN Wilayah I Long Bawan (Desa Long Api dan Tang Paye), SPTN Wilayah II Long Alango (Desa Rian Tubu), serta SPTN Wilayah III Long Ampung (Desa Paliran).
Namun pemantauan paling intens dilakukan di sektor Long Bawan, termasuk Desa Pa’ Kidang yang kini menjadi pusat ekowisata taman nasional tersebut.
Tidak hanya pemerintah, masyarakat Pa’ Kidang kini menjadi garda depan pelestarian. Mereka membentuk kelompok wisata Pa’ Kidang Makmur, menerima pelatihan kepemanduan, dan mendapatkan dukungan infrastruktur berupa shelter serta papan interpretasi dari Balai TNKM.
Selain itu, kelompok monitoring khusus Rafflesia dibentuk agar warga dapat memperkirakan waktu mekarnya bunga dan memberi peluang terbaik bagi wisatawan untuk menyaksikan antesis.
Kepala SPTN Wilayah I TNKM, Hery Gunawan, menceritakan bahwa hubungan masyarakat dengan Rafflesia masa lalu jauh berbeda.
“Dulu masyarakat tidak mengetahui bahwa Rafflesia merupakan tumbuhan langka. Bahkan menurut cerita, bunga ini pernah dimanfaatkan sebagai pakan anjing ketika berburu,” ujarnya.
Kini situasinya berbalik, rafflesia pricei menjadi simbol identitas baru masyarakat Krayan, diwujudkan lewat tarian tradisional Dayak Lundayeh yang menggunakan replika dan gambar Rafflesia sebagai properti.
Dari yang semula tidak punya nilai khusus, bunga ini kini menjadi ikon budaya sekaligus penanda pentingnya menjaga hutan.
Secara ekologis, keberadaan Rafflesia pricei pun menjadi indikator penting kesehatan hutan TNKM. “Adanya Rafflesia pricei menandakan fungsi ekologis hutan masih terjaga, karena tanaman ini sangat sensitif terhadap gangguan,” jelas Hery.
TNKM yang dikelola melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat adat, dan mitra konservasi, terus mendorong pemanfaatan wisata alam berbasis pelestarian.
Seno berharap pengembangan wisata Buduk Udan di Pa’ Kidang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memastikan hutan tetap lestari. “Kami berharap destinasi wisata ini terus berkembang, dengan dukungan para mitra dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Di saat Rafflesia di banyak daerah masih menjadi simbol penantian panjang, Krayan menunjukkan hubungan yang lebih dekat antara manusia dan bunga langka ini.
Di sini, Rafflesia tumbuh berdampingan dengan kehidupan sehari-hari, menjadikannya bukan hanya daya tarik wisata, tetapi juga alasan bagi masyarakat untuk terus menjaga hutan tetap bernapas.(*)
Foto : Jalil
Teks/Foto : BD Novelinna (Tim Publikasi DINAS KOMUNIKASI INFORMATIKA STATISTIK DAN PERSANDIAN )
Editor : Hermi Mastura, S,I.Kom