Sebatik, SIMP4TIK - Dalam upaya memperkuat kualitas pembelajaran dan meningkatkan kompetensi tenaga pendidik di wilayah perbatasan, UPT PPDM Sebatik kembali menyelenggarakan kegiatan Workshop Peningkatan Kompetensi Guru. Kegiatan ini resmi dibuka oleh Kepala UPT PPDM Sebatik, Taufik, S.I.P, bertempat di SMP Negeri 1 Sebatik, dan diikuti oleh seluruh guru SMPN 001 Sebatik di Kecamatan Sebatik.
Di tengah arus percepatan teknologi pendidikan, peningkatan kompetensi pengajar menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi. Pembelajaran mendalam (deep learning) dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) kini hadir sebagai bagian penting dalam ekosistem pendidikan modern. Keduanya memungkinkan proses belajar berlangsung lebih adaptif, personal, dan efektif. Namun, kemajuan teknologi tersebut tidak boleh berdiri sendiri.
Guru tetap menjadi aktor utama yang menentukan keberhasilan pembelajaran, sehingga penguasaan teknologi harus berjalan sejajar dengan kemampuan memberikan sentuhan emosional dan membangun hubungan kemanusiaan yang kuat dengan peserta didik.
Saat ini, berbagai model pembelajaran, modul ajar, hingga strategi mengajar semakin banyak mengintegrasikan teknologi digital untuk memudahkan perencanaan dan asesmen pembelajaran. Namun demikian, teknologi secerdas apa pun tidak dapat menggantikan intuisi, empati, dan sensitivitas sosial yang hanya dimiliki seorang guru. Kehadiran guru bukan hanya untuk menyampaikan informasi, melainkan membentuk karakter, mengasah kecerdasan emosional, serta menumbuhkan daya resiliensi dan sensitivitas sosial peserta didik.
Karena itulah peningkatan kompetensi guru harus bersifat menyeluruh. Selain menguasai pembelajaran berbasis AI, guru harus tetap memiliki kemampuan mengelola dinamika emosi di kelas, memahami kondisi psikologis peserta didik, serta menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang tidak hanya membentuk kecakapan intelektual, tetapi juga mengembangkan empati, sikap tangguh, kemampuan berkomunikasi, serta kesadaran sosial.
Ketika guru mampu memadukan teknologi dengan pendekatan humanis, maka pembelajaran tidak akan kehilangan esensinya. Model, modul ajar, serta strategi mengajar dapat dikembangkan menjadi perangkat pembelajaran yang lebih hidup tidak hanya menyediakan konten dan aktivitas, tetapi juga mengakomodir ruang bagi dialog, refleksi, dan interaksi emosional yang sehat. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi individu yang cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara emosional dan responsif terhadap lingkungan sosial.
Ke depan, peran guru akan semakin strategis. Di tengah laju teknologi yang kian cepat, guru justru menjadi figur yang memastikan bahwa pendidikan tetap berpusat pada manusia. Guru harus menjadi penghubung antara kecanggihan teknologi dan kebutuhan dasar peserta didik akan pendampingan, bimbingan, dan inspirasi. Hanya dengan cara inilah pendidikan dapat menghasilkan generasi yang fleksibel, kompeten, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial.
Dengan kompetensi teknologi yang kuat dan sekaligus kepekaan emosional yang terlatih, guru akan mampu menghadirkan pembelajaran yang utuh. Pembelajaran yang bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menumbuhkan hati dan membangun kesadaran sosial. Sebuah pembelajaran yang benar-benar memanusiakan manusia.(*)
Teks/Foto : Abdul Rahman, S.A.P (Tim Publikasi KECAMATAN SEBATIK )
Editor : Hermi Mastura, S,I.Kom